REPRESENTASI POLA KOMUNIKASI KELUARGA DALAM FILM NGERI-NGERI SEDAP KARYA BENE DION RAJAGUKGUK
REPRESENTASI POLA KOMUNIKASI KELUARGA DALAM FILM NGERI-NGERI SEDAP KARYA BENE DION RAJAGUKGUK
Date
2023-12-282023-12-28
Author
MUSLIMIN, ABDUL ISRADIN
MUSLIMIN, ABDUL ISRADIN
Metadata
Show full item recordAbstract
Abdul Isradin Muslimin, 2023. “Representasi Pola Komunikasi Keluarga Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap Karya Bene Dion Rajagukguk”. Skripsi, Jurusan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Penelitian ini dibimbing oleh Hudriansyah, Lc, M.A dan Sri Ayu Rayhaniah, M.Sos.
Penelitian ini dilatar belakangi pentingnya pendidikan pada generasi muda, terutama melalui komunikasi keluarga, menjadi fokus utama dalam membentuk masa depan yang baik. Komunikasi dalam keluarga dianggap sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter anak-anak, dengan film Ngeri-Ngeri Sedap dipilih sebagai objek penelitian karena mengangkat permasalahan komunikasi keluarga, khususnya antara orang tua dan anak, dengan berbagai pola komunikasi. Film ini sukses di bioskop dan platform streaming, menunjukkan relevansinya dalam mencerminkan realitas keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi pola komunikasi keluarga dalam film, mengingat urgensi pola komunikasi dalam membentuk karakter generasi muda dan kehidupan keluarga yang harmonis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi pola komunikasi keluarga dan konflik yang terjadi dalam keluarga ditinjau dari analisis semiotika Roland Barthes. penelitian dilakukan dengan menggunakan metode dan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ialah observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengidentifikasi denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian ini bahwa film Ngeri-Ngeri Sedap mencerminkan tiga pola komunikasi keluarga, yaitu membebaskan, demokratis, dan otoriter. Pola komunikasi otoriter mendominasi dalam film ini, menunjukkan dampak negatifnya terhadap dinamika keluarga, dengan komunikasi yang tidak terbuka, dominasi kehendak orang tua, dan ketidakmampuan menerima perbedaan. Konflik komunikasi keluarga dalam film terkait unsur budaya Batak, mencakup perbedaan pandangan tentang pernikahan, pertentangan terkait pilihan pekerjaan yang dianggap tidak sesuai dengan adat, dan pertentangan mengenai peran anak bungsu. Kesimpulan ini menunjukkan adanya ketidaksepakatan dalam menjalankan nilai-nilai budaya Batak, yang menciptakan perbedaan pandangan dan ketegangan komunikasi dalam keluarga. Untuk menyelesaikan konflik ini, semua pihak yang terlibat perlu saling mendengarkan dan memahami perspektif satu sama lain, mencari titik temu yang bisa memenuhi kebutuhan semua, dan menghargai pilihan karier yang berbeda. Rekomendasi dari penelitian ini adalah bagi orang tua, ajak anak untuk terlibat dalam diskusi terbuka. Berikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pendapat dan perasaan tanpa takut dihakimi. Komunikasi yang terbuka membangun kepercayaan dan meminimalkan konflik.